Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Kita memang menyaksikan bagaimana sebagian masyarakat melakukan praktek ibadah tertentu pada malam nisfu sya'ban. Entah itu berupa membaca surat yasin tiga kali, melakukan shalat, atau berpuasa pada pagi harinya. Seluruh ibadah tersebut pada dasarnya baik. Namun, ketika berbagai ibadah itu dilakukan secara khusus pada malam tersebut atau pada siang harinya dengan berdasarkan pada sejumlah hadis yang lemah apalagi ada yang mawdhu (palsu), maka hal itu tidak sesuai dengan tuntunan Rasul saw. Pasalnya seluruh amal ibadah baru bisa diterima dengan dua syarat: ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasul saw.
Dalam hal ini sejauh penulusuran kami dan komentar para ulama tentang hadis-hadis yang berbicara di seputar ibadah pada malam nisfu sya'ban, sebagian besar riwayatnya lemah dan palsu. Di antaranya adalah hadis yang berbunyi,
- " إذا كانت ليلة النصف من شعبان ، فقوموا ليلها ، و صوموا نهارها ، فإن الله ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا ، فيقول : ألا من مستغفر لي فأغفر له ألا مسترزق فأرزقه ؟ ألا مبتلى فأعافيه ؟ ألا كذا ألا كذا ؟ حتى يطلع الفجر " .
(Jika malam nisfu sya’ban tiba, shalatlah pada malamnya dan berpuasalah pada siang harinya. Sebab, Allah turun pada malam tersebut ketika matahari terbenam menuju langit dunia seraya berkata, “Adakah yang mau meminta ampunan padaku hingga Kuampuni? Adakah yang meminta rizki hingga Kuberi? Adakah yang terkena musibah hingga Kusembuhkan? Adakah yang begini dan begitu?” Hal itu terus berlangsung hingga fajar).
Sanad hadis di atas menurut kesepakatan para ulama adalah dhaif (lemah). Bahkan menurut al-Albani hadis tersebut maudhu (palsu). Sebab di dalamnya ada nama Ibn Abi Sabrah yang dianggap memalsukan hadis sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Taqrîb.
Namun demikian bukan berarti semua hadis yang terkait dengan malam nisfu sya’ban dhaif atau palsu. Adapula hadis yang sahih namun ia tidak terkait dengan amal ibadah secara khusus. Di antaranya yang berbunyi,
يطلع الله تبارك وتعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن ]
(Allah melihat kepada seluruh hamba pada malam nisfu sya’ban lalu mengampuni mereka semua, kecuali orang yang musyrik dan yang bermusuhan).
Kesimpulannya, walaupun malam tersebut merupakan malam yang mulia, namun tidak ada tuntunan secara khusus dari Rasulullah untuk melakukan ibadah tertentu. Ibadah apapun bisa dilakukan dengan ikhlas karena Allah tanpa disertai keyakinan yang tidak berdasar tentang malam tersebut disertai upaya untuk bertobat dari segala perbuatan syirik dan menjalin hubungan baik dengan sesama manusia.
Selanjutnya persiapan yang penting untuk kita lakukan di bulan Sya'ban ini di antaranya adalah pendalaman ilmu tentang ibadah diseputar Ramadhan, persiapan mental dan tekad, persiapan fisik dan kesehatan, serta persiapan ruhiyah dan spiritual dengan melakukan berbagai ibadah sunah. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah riwayat disebutkan,
وَلَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَان قَال: ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فيه الأَعْمَالُ إلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ (رواه أحمد وأبو داود وابن حزيمة والنسائى )
Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban”. Rasul saw bersabda: ”Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa” (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)
Wassalam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar